Pangan fungsional merupakan
pangan yang dapat memberikan manfaat
bagi kesehatan karena kandungan senyawa aktifnya, diluar manfaat yang
diberikan oleh zat-zat gizi yang terkandung di dalamnya. Jagung hibrida merupakan
salah satu potensi sumber pangan lokal
pengganti gandum sebagai
bahan baku tepung yang
memiliki banyak keunggulan. Produksi atau
panen jagung secara
nasional meningkat setiap tahunnya.
Pemanfaatan jagung sejalan dengan
program pemerintah dalam mendukung upaya
diversifikasi, ketahanan,
dan kemandirian pangan. Jagung sebagai bahan pangan dapat memberikan nilai
gizi dalam jumlah yang cukup besar jika dibandingkan dengan biji-bijian lain.
Jagung merupakan tanaman
serealia yang paling produktif di dunia, sesuai ditanam di wilayah bersuhu
tinggi, dan pematangan tongkol ditentukan oleh akumulasi panas yang diperoleh
tanaman. Luas pertanaman jagung di seluruh dunia lebih dari 100 juta ha,
menyebar di 70 negara, termasuk 53 negara berkembang. Penyebaran tanaman jagung
sangat luas karena mampu beradaptasi dengan baik pada berbagai lingkungan.
Jagung tumbuh baik di wilayah tropis hingga 50° LU dan 50° LS, dari dataran
rendah sampai ketinggian 3.000 m di atas permukaan laut (dpl), dengan curah
hujan tinggi, sedang, hingga rendah sekitar 500 mm per tahun.
Jagung merupakan tanaman
semusim determinat, dan satu siklus hidupnya diselesaikan dalam 80-150 hari.
Paruh pertama dari siklus merupakan tahap pertumbuhan vegetatif dan paruh kedua
untuk pertumbuhan generatif. Tanaman jagung merupakan tanaman tingkat tinggi
dengan klasifikasi sebagai berikut:
Kingdom : Plantae
Divisio : Spermatophyta
Sub divisio : Angiospermae
Class : Monocotyledoneae
Ordo : Poales
Familia : Poaceae
Genus : Zea
Spesies : Zea mays L.
Secara umum, komponen dasar
biji jagung terdiri atas pati, protein, lemak, vitamin, mineral, dan bahan
organik lain. Jagung dapat menyumbangkan 15 - 56% total kalori harian dan dapat
digunakan sebagai pengganti protein hewani di negaranegara berkembang. Dewasa
ini, sudah banyak penelitian yang memanfaatkan jagung sebagai bahan pangan untuk
membuat produk dengan berbagai manfaat kesehatan, seperti diolah menjadi
tepung, mie, minuman, tempe, snack bar, dan masih banyak lagi. Pada sebuah
penelitian menyebutkan bahwa tepung jagung memiliki indeks glikemik rendah yang
bermanfaat untuk penderita diabetes mellitus. Tepung jagung dapat dimanfaatkan
sebagai pengganti tepung gandum dan dapat digunakan sebagai makanan olahan
seperti cookies, donat, dan lainnya. Salah satu olahan menggunakan tepung
jagung adalah beras analog yang berdasarkan pengujian didapatkan bahwa indeks glikemik
nasi dari beras analog formula optimum adalah 54. Nilai tersebut lebih rendah
dari nasi beras sosoh dengan
IG 69. Indeks glikemik
pada suatu produk
pangan dipengaruhi oleh
bahan penyusunnya, kandungan
protein, jumlah serat,
dan kandungan amilosa. Pada
beras analog formula optimum dapat dilihat bahwa bahan penyusun beras
analog tergolong bahan
berindeks glikemik rendah. Tepung
jagung memiliki IG 42, bekatul dengan IG 69, dan kacang kedelai dengan IG 51. umlah serat
juga memengaruhi indeks
glikemik beras analog.
Kandungan serat beras analog
tinggi yaitu 13,30%. Serat yang tinggi terjadi salah satunya karena adanya
penambahan tepung jagung.
SUMBER
Nurlela, N.,
Azizah, M., & Suwarnata, A. (2021). EDUKASI TENTANG PANGAN FUNGSIONAL
BERBASIS PANGAN LOKAL: PORANG DAN JAGUNG. LOGISTA
- Jurnal Ilmiah Pengabdian Kepada Masyarakat, 5(2), 241-248. doi:10.25077/logista.5.2.241-248.2021
Kurniawati, M., Budijanto, S., & Yuliana, N. D. (2016).
Karakterisasi dan indeks glikemik beras analog berbahan dasar tepung jagung. Jurnal Gizi dan Pangan, 11(3), 169-174.
Wulandari, Y. A., Sularno, S., & Junaidi, J. (2017).
Pengaruh Varietas dan Sistem Budidaya Terhadap Pertumbuhan, Produksi, dan
Kandungan Gizi Jagung (Zea Mays L.). Jurnal Agrosains dan Teknologi, 1(1), 20-31.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar