Akne Vulgaris adalah penyakit kulit kronis yang ditandai dengan
adanya peradangan pada unit pilosebasea meliputi kukul, komedo, pustul, nodus,
dan kista dan dapat disebabkan oleh beberapa faktor seperti riwayat keluarga,
penggunaan kosmetik, pekerjaan, stres, penggunaan obat, onset menarche, siklus
menstruasi, gaya hidup, dan pola makan. Terdapat penelitian yang menunjukkan
adanya hubungan antara pola makan dengan kejadian akne vulgaris pada sebuah
populasi.
Beberapa faktor asupan yang dapat menyebabkan timbulnya akne
vulgaris adalah konsumsi karbohidrat dengan indeks glikemik tinggi. Makanan
dengan indeks glikemik tinggi dapat memicu timbulnya akne vulgaris melalui
peningkatan insulin dan IGF-1. IGF-1 kemudian merangsang hipersekresi androgen
yang diketahui berperan dalam patogenesis akne vulgaris dengan meningkatkan
poliferasi kelenjar sebasea dan memicu hiperkeratinosit yang merupakan awal
dari terbentuknnya Akne Vulgaris.
Selain karbohidrat dengan indeks glikemik tinggi, terdapat
literatur mengatakan bahwa protein whey juga dapat memicu jerawat dengan
menginduksi peningkatan level IGF-1 yang kemudian berkaitan dengan peningkatan
dan pertumbuhan pembelahan sel kulit, sebum, efikasi dari hormon lutenizing
(LH), dan produksi estrogen. Susu mengandung hormon bioaktif dan molekul
seperti androgen, estrogen, progesteron, dan IGF -1. Didapatkan penelitian
bahwa konsumsi susu dapat meningkatkan level IGF-1 pada plasma, terutama susu
skim. Peningkatan IGF-1 berefek pada sekresi androgen pada ovarium dan
mengaktivasi 5α reductase yang mengkonversikan testosteron menjadi
dihidrotestosteron. IGF-1 juga dapat menginhibisi sintesis hepatik dari sex
hormone-binding globulin yang menyebabkan peningkatan bioavailabilitas
androgen, sehingga berefek pada patogenesis akne.
Makanan tinggi lemak juga dikatakan sebagai faktor penyebab timbulnya
akne vulgaris karena dapat memicu peningkatan aktivitas kelenjar sebasea dan
produksi sebum. Kelenjar sebasea yang berlebih dapat menutup pori sehingga
memicu timbulnya akne vulgaris. Hal ini diakibatkan karena asupan lemak yang
belebihan, melalui aktivasi enzim 5-delta desaturase akan meningkatkan produksi
arachinoid acid yang selanjutnya akan menghasilkan produk akhir berupa
leukotriens serta prostaglandin-2 yang merupakan mediator proinflamasi.
Pembentukan prostaglandin kelompok PGE dari arachinoid acid atau dapat disebut
PGE2 menyebabkan pelepasan histamin dari sel mast dan pembentukan bradikinin. Hal
ini menyebabkan peradangan akut pada unit polisebasea yang menyebabkan akne
pramenstruasi.
Selain itu, kacang-kacangan yang dikonsumsi secara berlebih dapat meningkatkan
kadar lemak tubuh. Dikutip dari American Academy of Dermatology tahun 2007 bahwa
orang yang sering mengonsumsi makanan berlemak, seperti kacang-kacangan
cenderung memiliki akne vulgaris. Makanan yang tinggi lemak akan memicu peningkatan
kelenjar sebasea dan produksi sebum. Produksi sebum berperan dalam patogenesis timbulnya
AV. Patogenesis yang diduga berpengaruh pada timbulnya Akne vulgaris yaitu
peningkatan produksi sebum yang di bawah kontrol hormon androgen. Hormon
androgen berperan dalam ekskresi sebum dan perubahan sel-sel sebosit demikian
pula sel keratinosit folikular sehingga menyebabkan terjadinya mikrokomedo dan
komedo yang akan berkembang menjadi lesi inflamasi. Sel-sel sebosit dan
keratinosit folikel pilosebasea memiliki mekanisme seluler yang digunakan untuk
mengubah hormon androgen, yaitu enzim-enzim 5-α-reduktaseserta 3β dan 7β
hidroksisteroid dehidrogenase yang terdapat pada sel sebosit basal yang belum
berdiferensiasi. Setelah sel- sel sebosit berdiferensiasi kemudian terjadi
ruptur, hal ini mengakibatkan sebum keluar dan masuk ke dalam duktus
pilosebasea yang menyebabkan terbentuknya lesi primer akne, yaitu mikrokomedo.
Sumber : Akbar, A. R.,
Mona, L., & Tanjung, S. (2022). Hubungan Pola Makan dengan Kejadian Akne
Vulgaris pada Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Baiturrahmah Padang
Angkatan 2019-2020. Jurnal Kedokteran Nanggroe Medika, 5(2), 1-10.